Koloniale Bank didirikan pada tahun 1881 dan bergerak khusus pada pendanaan perkebunan di Hindia Belanda. Meskipun perbankan pada saat itu tidak memberikan laba yang baik, kondisi eksternal lain, termasuk pembukaan Terusan Suez membuka kesempatan luas untuk pengembangan perkebunan. Koloniale Bank pada suatu periode memunyai keterkaitan erat dengan 13 pabrik gula dan lima di antaranya merupakan milik sendiri. Perkebunan lain adalah kopi dan teh. Kantor di Semarang berada pada lokasi utama, dan sudah ada sebelum bangunan tetangga sebelah (N.V. Cultuur Maatschappij der Vorsten-landen) berdiri. Bangunan dua lantai yang menghiasi tepian Kali Semarang tersebut dirancang dengan pendekatan iklim setempat, sehingga menjadi bagian penting dalam sejarah perkem-bangan arsitektur Nusantara. Sepanjang sisi barat bangunan terdapat “selubung” berupa serambi dengan deretan tiang dan busur, yang membuat ruang-ruang kerja di dalam bangunan tidak langsung terdedah ke panas matahari. Koloniale Bank kemudian kepemilikannya beralih ke PT Rajawali Nusindo. (J. S. Furnivall Netherlands India: A Study of Plural Economy Cambridge University Press, digitally printed version, 2010).