Bangunan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) bersisian rapat dengan bangunan PT Pelni (d.h. KPM) pada jalan utama Kota Lama. Perhimpunan koperasi tersebut didirikan pada tahun 1948, berangkat dari masalah pengadaan bahan baku batik (kain mori) yang dihadapi para pembatik. Lembaga tersebut diharapkan dapat berperan dalam hubungannya dengan importir. Dalam perkembangan selanjutnya, dengan dukungan kebijakan pemerintah sampai ke hilir pada tahun 1950-an, GKBI bahkan bisa membangun pabrik kain mori di Medari untuk menjaga ketahanan industri batik. Perjalanan sejarah membuktikan bahwa GKBI, dengan dukungan kebijakan-kebijakan Pemerintah dari hulu ke hilir, mempunyai peran penting dalam pengembangan industri batik. Bangunan merupakan contoh bangunan Art Deco tahap akhir, yaitu pada dasawarsa ke-5 abad ke20. Kepulangan para arsitek berkebangsaan Belanda dan keterbatasan populasi arsitek yang berpraktek di Indonesiamendorong kiprah anemer terutama lulusan Teknik Sipil dan/atau hasil tempaan sekolah-sekolah menengah teknik yang sudah lama ada di kota-kota besar dan menengah. Gedung GKBI merupakan produk periode pasca Perang Dunia II sampai dengan akhir tahun 1950-an. Ciri langgam tersebut adalah garis-garis horizontal yang kuat dipadu dengan unsur vertikal berbentuk menara yang biasanya dimanfaatkan untuk ruang tangga); pemakaian bahan besi dipadu dengan kaca; dan ornamentasi sederhana.Di belakang bangunan ini terdapat jajaran bangunan bekas gudang membujur arah utara-selatan. Pada peta NILLMIJ 1939 tapak GKBI berkaitan dengan Mirandolle, Vo?te & Co yang termasuk 10 besar perusahaan Belanda di Jawa, sekaligus penguasa sejumlah perkebunan tebu dan pabrik gula, dan memang benar bangunan koperasi tersebut dibangun pada bagian depan perusahaan ekspor impor yang telah berdiri pada tahun 1888 tersebut. Solichul HA. BAKRI - http://shadibakri.uniba.ac.id/wp-content/uploads/2016/03/GKBI-2013-Property-2016.pdf PUPUT SURYANI http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?act=view&buku_id=92947&mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&typ=html Hariyono, “Kedaulatan Indonesia dalam perjalanan sejarah politik,” Naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar, UNIVERSITAS NEGERI MALANG (UM), 2011.